Walking After You (Part 2) - Catatan Perjalanan Tiga hari Tiga Ranu


Hari Jum’at, perjalanan hari kedua saya. Beristirahat di Ranu Pani mengucapkan selamat pagi yang singkat di Ranu Regulo, dengan kabut dan kebekuannya. Niat berjalan dibelakang Medina Kamil yang hanya memakai one day pack dan melewati rekan-rekan pendakian Jambore Avtech yang sedang beristirahat. Saya ‘ngos-ngosan’ setelah pos 3. Medina Kamil menghilang, dan tak sempat terfoto. Saya berada paling belakang untuk pendakian ini. Tas 40 liter serasa ingin saya lepas dari punggung. Saya butuh coklat. Abdurrahman Azhim bertemu Bonek dan Ultras di jalur pendakian Ranu Kumbolo. Bertemu banyak orang, berkenalan, dan berkelakar. Say cheese!

*** 

Saya tiba di Ranu Pani pukul 01:30. Terlihat ratusan tenda sudah berisikan para pendaki yang beristirahat. Mereka telah naik lebih dulu dari saya. Mungkin mereka tiba kemarin sore. Cahaya senter terlihat dari arah timur, sepertinya ada juga pendaki yang mulai berangkat dini hari, dengan estimasi waktu pendakian ke Ranu Kumbolo sekitar 4 s.d 5 jam perjalanan. Mereka berharap masih sempat melihat matahari terbit diantara bukit di kawasan Ranu Kumbolo.

Truk ‘Johan Putra’ yang saya tumpangi sepertinya tak langsung turun. Supir dan kernet terlihat sedang menunggu kopi pesanannya datang. Sambil berharap melanjutkan pulang ke Tumpang membawa rombongan pendaki. Terlihat beberapa rombongan pendaki yang tiba bersama saya, sedang berada di depan kantor registrasi yang sudah tutup. Mereka berdiskusi untuk mencari tempat istirahat tanpa harus membuka tenda. Maklum, dengan waktu yang mereka punya, dan kondisi yang hampir mulai terang. Sepertinya bukan pilihan pintar untuk membuka tenda.

Area kantor Resort Ranu Pani, juga menyediakan penginapan. Penginapan tersebut ada yang free, dan ada juga yang berbayar. Saya memutuskan untuk membuka sleeping-bag saja, dan mendekat bersama pendaki yang sudah lebih dulu tertidur. “Semoga ada kehangatan disini”.

***

Saya bersiap-siap pada pukul 04:00. Angin masih tak lelah bertiup dari kemarin malam. Saya mengandalkan cadangan tenaga, setelah terbangun dari tidur yang singkat. Menyiapkan coklat panas, dan bersiap ke Ranu Pani dan Ranu Regulo. Headlamp masih terkalung di leher, serasa enggan untuk menyiramkan air ke muka. Suhu berkisar 4 derajat sampai 6 derajat. Berharap matahari segera terbangun. Supaya bada ini diam, dan tak menggigil lagi.

Perut sudah terisi, dan saatnya bermain ke Ranu Pani. Akhir Januari tahun 2010 lalu, saya sempat life in Ranu Pani selama satu minggu disini. Masih teringat saat saya membawa pulang beberapa kentang, untuk dibakar bersama mi rebus dan beberapa kornet, sebagai tambahan karbohidrat santap pagi. Kondisi Ranu Pani saat ini tak seramai dulu, sekarang jarang terlihat masyarakat yang memancing di pinggiran Ranu, bersama lampu badai dengan api yang meredup. Tapi pesona Ranu Pani masih membekas, menunggu sore sambil duduk dipinggiran jembatan adalah momen favorit saya. Jembatan yang terbuat dari batu dan semen, dibatasi pipa besi bercat merah tua untuk pembatas kiri kanannya, menjadikan Ranu Pani kian romantis, di pagi dan sore harinya.



Saya melanjutkan perjalan kearah barat menuju Ranu Regulo, sekitar kurang lebih 200 meter dari Ranu Pani. Sudah terjadi banyak perubahan, saat saya melewati jalan menuju Ranu Regulo. Sinar matahari yang mencoba menembus kabut, adalah momen yang paling saya rindukan untuk berjalan diantaranya. Bambu terpasang disisi pinggiran jalan menuju Ranu Regulo, menunjukkan bahwa daerah ini menjadi pusat pembibitan tanaman endemik. Upaya Taman Nasional Bromo Tengger Semeru menjaga kelestarian kawasan sektor Ranu Pani dan Ranu Regulo semakin menunjukkan wujudnya. Terlihat beberapa papan informasi petak tanaman di sisi kanan saya berjalan.

Menuju Ranu Regulo membuat saya was-was, karena dulu saat saya ke Ranu Regulo ada wanita yang ‘mungkin gila’, wanita paruh baya yang saya temui tidak menggunakan pakaian, dan tiduran di sisi pinggir Ranu. Wanita yang menggigil itu meminta roko’. Kabar dari masyarakat disekitar Ranu Pani mengatakan, bahwa orang tersebut adalah istri dari pengusaha paling kaya di daerah tengger pada waktu itu. Tapi bayangan menakutkan itu sontak hilang. Saat saya menoleh kearah kiri, terdapat bangunan atau penginapan model rumah panggung. Dulu waktu saya kemari, rumah panggung ini tak terurus. Para pendakipun mengamini bahwa pernah ditakuti sosok orang tua yang sering nampak di rumah tersebut. Rumah panggung itu kini telah disulap menjadi rumah panggung bergaya pondokan untuk para peneliti. Terlihat ada kerangka kayu menyerupai bentukan kupu-kupu dari Family Lepidoptera. Pondokan tersebut dibalut dengan cat coklat tua, membuat bangunan yang bersebelahan dengan papan vandals ini menjadi semakin enak dilihat.




Sepertinya Ranu Pani kalah pamor, dibandingkan Ranu Regulo, semenjak kawasan ranu regulo dijadikan kawasan peneliti. Terlihat beberapa judul penelitian yang terpampang di baliho dengan tinggi hampir 3 meter, menyebutkan: “Sedimentation Controls and Ecosystems Recovery of Lake, Planting of Local Vegetations in Restoration Plant Collection Garden (100 Ha)”. Pihak Taman Nasional Bromo Tengger Semeru semakin berbenah untuk melakukan konservasi kawasan tersebut. Semoga para pendaki dan wisatawan dapat ikut menjaga dan berpartisipasi untuk kelestarian wilayah ini, dengan tidak membuang sampah sembarangan.

***

Mentari pukul 06:00 sudah mulai menghangatkan beberapa bagian tubuh saya yang membeku. Sebenarnya saya masih enggan meninggalkan pesona Ranu Regulo. Tetapi perjalanan sesungguhnya adalah setelah ini. Saya re-pack carir, supaya beban yang saya gendong dibalik punggung, terasa nyaman dan tidak ‘membunuh’ saat perjalanan ke Ranu Kumbolo. Menyiapkan minum di sisi kiri dan kanan tas, menaruh beberapa makanan ringan di kantong yang mudah diambil, dan mulai mengencangkan ikat sepatu agar tidak mudah lepas.

Dari Ranu Pani, kita wajib melakukan registrasi ulang dengan menyerahkan surat yang kita terima dari tumpang. Dari pos Ranu Pani, kita akan melewati kurang lebih 4 pos pendakian, sebelum akhirnya tiba di Ranu Kumbolo, yang merupakan destinasi akhir perjalanan saya. Matahari di langit Ranu Pani mulai nampak, kondisi jalan tidak terlalu berdebu, bersyukur hujan sedikit membantu saya dalam trekking menuju Kumbolo. Bisa dibayangkan jika kondisi jalan untuk trekking berdebu, saya harus bekerja ekstra untuk menutupi hidung dengan masker, dan mengatur ritme nafas disela-sela langkah dan beban di bahu. Saya berjalan menaiki jalan yang sudah berpaving, nampak butiran embun yang berada di atas dedaunan jatuh tersenggol para pendaki. Terlihat tulisan “selamat datang para pendaki gunung Semeru”, menyambut kami. Mari kita berjalan!.

Awal perjalanan menuju pos 1, jalan sudah berpaving dan kami terbantu dengan papan petunjuk jalan. Sebenarnya yang jadi persoalan adalah, bagaimana bagi para pendaki pemula seperti saya mengatur ritme nafas dengan langkah, sembari itu menyeimbangkan beban yang kita bawa. Maklum, saya tidak menggunakan porter (tukang angkut barang), saya ingin bertanggung jawab dengan apa yang saya bawa. Selain itu, saya masih anggap beban yang saya bawa dalam kondisi wajar. Intinya, saya tak punya cukup uang untuk menyewa porter. Haha.





Sebelum tiba di Ranu Kumbolo, kita harus melewati beberapa lokasi dan pos peristirahatan. Kita harus berjalan dari Ranu Pani menuju Landengan Dowo sejauh 3 km, kemudian dari Landengan Dowo ke Watu Rejeng sejauh 3 km. Baru dari Watu Rejeng menuju Ranu Kumbolo sejauh 4,5 km. Saya menghabiskan waktu cukup lama untuk trekking ini. Sekitar 1 jam lebih lama dari pendaki Profesional yang hanya menghabiskan waktu sekitar 5 jam perjalanan. Bagi saya, tak selamanya waktu itu penting, jauh lebih berharga kita tahu batas kemampuan kita dalam bertahan, dan melanjutkan perjalanan. “kapan kita harus berhenti, dan tau kapan kita harus berlari”.

“Saya berjalan setelah kamu”, ucap saya kepada Izul, rekan yang saya temui di meja registrasi Ranu Pani. Saya beristirahat, meneguk air yang sudah saya siapkan disisi kanan tas. Saya beristirahat cukup lama, mengatur nafas yang menderu. Maklum budaya metropolis akhir-akhir ini, membawa penderitaan yang menyusahkan di pendakian. Surat dokter yang saya terima dari Surabaya sebelum berangkat ke Malang, tertulis radang tenggorokan, flu dan kondisi saya yang kurang tidur. Haha, tapi apa boleh buat niat seperti magnet yang membawa saya ke pendakian ini, bersama ratusan pendaki dari seluruh Indonesia. Aku hanya bilang kepada kalian, “aku berjalan setelah kamu, entah kamu menunggu, atau tetap melaju.” 

Saya lupa tepatnya diantara pos berapa saya berhenti, konsentrasi saya buyar saat saya mulai merasa otot paha sedikit tertarik. Jika ada beberapa buku mengatakan teori-teori selama pendakian. Menurut saya hasil serapannya hanya 25%, selebihnya kamu dan dan Tuhan yang memutuskan. Pengalaman dan cerita kawan-kawan warung kopi yang bisa saya andalkan dalam pendakian ini. Saya mencoba menurunkan tas 40 liter ke atas tanah yang basah, melihat daerah sekitaran bahu mengeluarkan asap hangat, dari panas tubuh bertemu dengan udara dingin di jalur pendakian. Fenomena yang jarang saya jumpai di Surabaya.


Walking After You- saya masih tak paham. Siapakah yang akan melewati saya dan menegur saat saya meluruskan kaki. Karena saya berapa kali terlewati oleh para pendaki, begitupun saya bergantian mendahului mereka dan menyapa saat mereka duduk beristirahat. Tapi kali ini berbeda, wanita dengan jaket entah berbahan apa, yang saya ingat warna jaket tersebut merah. Wanita ini memakai topi, dengan mengikat rambutnya dengan style ekor kuda. Menggendong one day pack warna merah. Ia melewati saya sambil menyapa, “mari saya dulu”. Sambil melengkungkan senyum kepada saya. Dengan wajah kehabisan nafas, saya hanya menjawab: “mari”, dengan muka datar dan sambil mengatur nafas. Kemudian disusul di belakang wanita itu para pendaki lainnya. Para pendaki itu bilang kepada saya,”Lu hebat, disapa Medina Kamil bro!”. Gue nih maksa jalan biar dapet foto bareng dia. Coookk! Tadi itu Medina Kamil toh.

Bisa diibaratkan besok lu mau sidang skripsi, dan lu terlambat bangun. Langsung melompat dan gendong tas. Ngebut dijalanan. Lah ini kondisi saya saat ketemu Medina Kamil, bukan apa-apa. Ibarat Lu punya sebuah hoby, pasti semua punya bintang. Dan saat itu bintang lu ada dihadapan lu. Kemudian lu kacangin gitu  aja, Men!  Aarghhh!!! (maaf Medina, saya khilaf waktu itu).

Saya tak menyerah, saya terus berjalan di belakang Medina dan beberapa pendaki lainnya. Yang pasti para pendaki lain punya niatan yang sama dengan saya. Selain foto bareng, lu bisa bayangin saat lu jalan di belakang medina. Apa yang lu bayangin? Pengen pura-pura jatuh, lalu Medina nolongin lu? Atau pura-pura pingsan? Dan Medina kasih nafas bantuan buat lu. Oh Meeeen!! “Masyarakat pada bilang Waow”.

Saya bersyukur dikasih sama Tuhan panca indra yang lengkap, untuk merekam bagaimana Medina Kamil. Waktu 30 menit saya berjalan, dan menamati bagaimana sosok Medina yang cheersfull dilayar TV itu. Setelah itu saya roboh, dan melihat Medina berjalan dengan para pendaki lainnya. Medina lebih cantik dari yang saya lihat di televisi. Sialan, untung banget jadi kameramen acara jejak petualang, gak perlu roboh-robohan macam awak gini.

Saya butuh coklat, untuk atasi pahit yang berada disekitaran bibir dan mulut. Untung saya betemu “kluwing”, teman dari Surabaya yang saya temui saat saya di tumpang, ia seperti tak punya saraf rasa lelah dan dingin. Ia terus berjalan dan menyapa para pendaki lainnya. Dengan sedikit keriuhan canda, mencairkan jalur pendakian yang beku oleh tiupan angin dan sapaan kabut tipis yang mulai naik. Dia bonek sejati, terlihat dari baju dan perawakannya. Dua kaos yang ia kenakan semuanya bertuliskan bonek. “satu nyali, salam wani”.

separuh perjalanan lagi, tapi saya ingin melempar tas saya dan meninggalkannya. Kedua bahu sudah mulai nyut-nyutan. Di belakang saya sepertinya rekan dari Gersik, memakai atribut semacam slayer bertuliskan Ultras. “Mas monggo minum?”, ia menyodorkan minuman warna oranye, sepertinya ini minuman jeruk. Lumayan Tuhan, untuk mengalihkan rasa pahit di area mulut, “suwun mas”, ucapku berterima kasih. “Di depan sudah pos 3 mas, tapi pelan-pelan saja, jalannya 45 derajat naik”. Si-Ultras menerangkan kepada saya, sambil terlihat ia mengusap keringat. Bismillah!


 
Tiga jam kemudian, saya berhasil melihat langit yang membiru cerah. Terlihat juga segerombolan pendaki berhenti untuk berfoto. Beberapa orang mengucap syukur karena telah melihat Ranu Kumbolo yang memantulkan warna langit. Saya menikmati panorama dari tebing yang langsung menghadap ke arah Ranu Kumbolo. Danau yang mulanya biru, perlahan menjadi hijau karena pantulan dari pohon cemara yang berada disisi kiri dan kanannya. Setelah menikmati panorama selama 1 jam, saya melanjutkan perjalanan untuk mencari lokasi camp. Saya terpaksa mengitari danau menuju dua bangunan yang berdekatan dengan jalur penanjakan cinta. Karena beberapa lokasi dipakai untuk peserta dari Jambore Avtech.

 
Saya tak sendiri di Kumbolo, ternyata saya bertemu teman dari kampus. Zaki wakil PresBem Fakultas di jaman saya. Dan dua adik angkatan Nizam dan Ari, yang bergabung setenda bersama saya. Ranu kumbolo sudah mulai turun kabut. Kami yang baru tiba langsung mendirikan tenda, sebelum hujan memandikan kami dengan butiran es. (Bersambung)

***

0 komentar:

Posting Komentar

Pasang Iklanmu di sini