10 min Reading
Add Comment
Hari Jum’at, perjalanan hari
kedua saya. Beristirahat di Ranu Pani mengucapkan selamat pagi yang singkat di
Ranu Regulo, dengan kabut dan kebekuannya. Niat berjalan dibelakang Medina
Kamil yang hanya memakai one day pack
dan melewati rekan-rekan pendakian Jambore Avtech yang sedang beristirahat. Saya
‘ngos-ngosan’ setelah pos 3. Medina Kamil
menghilang, dan tak sempat terfoto. Saya berada paling belakang untuk pendakian
ini. Tas 40 liter serasa ingin saya lepas dari punggung. Saya butuh coklat. Abdurrahman Azhim bertemu Bonek dan Ultras di jalur pendakian Ranu Kumbolo. Bertemu banyak orang,
berkenalan, dan berkelakar. Say cheese!
***
Saya tiba di Ranu Pani pukul
01:30. Terlihat ratusan tenda sudah berisikan para pendaki yang beristirahat.
Mereka telah naik lebih dulu dari saya. Mungkin mereka tiba kemarin sore.
Cahaya senter terlihat dari arah timur, sepertinya ada juga pendaki yang mulai
berangkat dini hari, dengan estimasi waktu pendakian ke Ranu Kumbolo sekitar 4
s.d 5 jam perjalanan. Mereka berharap masih sempat melihat matahari terbit diantara
bukit di kawasan Ranu Kumbolo.
Truk ‘Johan Putra’ yang saya
tumpangi sepertinya tak langsung turun. Supir dan kernet terlihat sedang
menunggu kopi pesanannya datang. Sambil berharap melanjutkan pulang ke Tumpang membawa
rombongan pendaki. Terlihat beberapa rombongan pendaki yang tiba bersama saya,
sedang berada di depan kantor registrasi yang sudah tutup. Mereka berdiskusi
untuk mencari tempat istirahat tanpa harus membuka tenda. Maklum, dengan waktu
yang mereka punya, dan kondisi yang hampir mulai terang. Sepertinya bukan
pilihan pintar untuk membuka tenda.
Area kantor Resort Ranu Pani,
juga menyediakan penginapan. Penginapan tersebut ada yang free, dan ada juga yang berbayar. Saya memutuskan untuk membuka sleeping-bag saja, dan mendekat
bersama pendaki yang sudah lebih dulu tertidur. “Semoga ada kehangatan disini”.
***
Saya bersiap-siap pada
pukul 04:00. Angin masih tak lelah bertiup dari kemarin malam. Saya
mengandalkan cadangan tenaga, setelah terbangun dari tidur yang singkat.
Menyiapkan coklat panas, dan bersiap ke Ranu Pani dan Ranu Regulo. Headlamp masih terkalung di leher,
serasa enggan untuk menyiramkan air ke muka. Suhu berkisar 4 derajat sampai 6
derajat. Berharap matahari segera terbangun. Supaya bada ini diam, dan tak
menggigil lagi.
Perut sudah terisi, dan saatnya
bermain ke Ranu Pani. Akhir Januari tahun 2010 lalu, saya sempat life in Ranu Pani selama satu minggu
disini. Masih teringat saat saya membawa pulang beberapa kentang, untuk dibakar
bersama mi rebus dan beberapa kornet, sebagai tambahan karbohidrat santap pagi.
Kondisi Ranu Pani saat ini tak seramai dulu, sekarang jarang terlihat
masyarakat yang memancing di pinggiran Ranu, bersama lampu badai dengan api yang
meredup. Tapi pesona Ranu Pani masih membekas, menunggu sore sambil duduk
dipinggiran jembatan adalah momen favorit saya. Jembatan yang terbuat dari batu
dan semen, dibatasi pipa besi bercat merah tua untuk pembatas kiri kanannya,
menjadikan Ranu Pani kian romantis, di pagi dan sore harinya.
Saya melanjutkan perjalan kearah
barat menuju Ranu Regulo, sekitar kurang lebih 200 meter dari Ranu Pani. Sudah
terjadi banyak perubahan, saat saya melewati jalan menuju Ranu Regulo. Sinar
matahari yang mencoba menembus kabut, adalah momen yang paling saya rindukan
untuk berjalan diantaranya. Bambu terpasang disisi pinggiran jalan menuju Ranu
Regulo, menunjukkan bahwa daerah ini menjadi pusat pembibitan tanaman endemik. Upaya Taman Nasional Bromo
Tengger Semeru menjaga kelestarian kawasan sektor Ranu Pani dan Ranu Regulo semakin
menunjukkan wujudnya. Terlihat beberapa papan informasi petak tanaman di sisi
kanan saya berjalan.
Menuju Ranu Regulo membuat
saya was-was, karena dulu saat saya ke Ranu Regulo ada wanita yang ‘mungkin
gila’, wanita paruh baya yang saya temui tidak menggunakan pakaian, dan tiduran
di sisi pinggir Ranu. Wanita yang menggigil itu meminta roko’. Kabar dari
masyarakat disekitar Ranu Pani mengatakan, bahwa orang tersebut adalah istri
dari pengusaha paling kaya di daerah tengger pada waktu itu. Tapi bayangan
menakutkan itu sontak hilang. Saat saya menoleh kearah kiri, terdapat bangunan
atau penginapan model rumah panggung. Dulu waktu saya kemari, rumah panggung
ini tak terurus. Para pendakipun mengamini
bahwa pernah ditakuti sosok orang tua yang sering nampak di rumah tersebut.
Rumah panggung itu kini telah disulap menjadi rumah panggung bergaya pondokan
untuk para peneliti. Terlihat ada kerangka kayu menyerupai bentukan kupu-kupu dari
Family Lepidoptera. Pondokan tersebut dibalut dengan cat coklat tua,
membuat bangunan yang bersebelahan dengan papan vandals ini menjadi semakin enak dilihat.
Sepertinya Ranu Pani kalah pamor,
dibandingkan Ranu Regulo, semenjak kawasan ranu regulo dijadikan kawasan
peneliti. Terlihat beberapa judul penelitian yang terpampang di baliho dengan
tinggi hampir 3 meter, menyebutkan: “Sedimentation
Controls and Ecosystems Recovery of Lake, Planting of Local Vegetations in
Restoration Plant Collection Garden (100 Ha)”. Pihak Taman Nasional Bromo
Tengger Semeru semakin berbenah untuk melakukan konservasi kawasan tersebut.
Semoga para pendaki dan wisatawan dapat ikut menjaga dan berpartisipasi untuk
kelestarian wilayah ini, dengan tidak membuang sampah sembarangan.
***
Mentari pukul 06:00 sudah mulai
menghangatkan beberapa bagian tubuh saya yang membeku. Sebenarnya saya masih
enggan meninggalkan pesona Ranu Regulo. Tetapi perjalanan sesungguhnya adalah
setelah ini. Saya re-pack carir,
supaya beban yang saya gendong dibalik punggung, terasa nyaman dan tidak ‘membunuh’
saat perjalanan ke Ranu Kumbolo. Menyiapkan minum di sisi kiri dan kanan tas, menaruh
beberapa makanan ringan di kantong yang mudah diambil, dan mulai mengencangkan ikat
sepatu agar tidak mudah lepas.
Dari Ranu Pani, kita wajib
melakukan registrasi ulang dengan menyerahkan surat yang kita terima dari
tumpang. Dari pos Ranu Pani, kita akan melewati kurang lebih 4 pos pendakian,
sebelum akhirnya tiba di Ranu Kumbolo, yang merupakan destinasi akhir perjalanan
saya. Matahari di langit Ranu Pani mulai nampak, kondisi jalan tidak terlalu
berdebu, bersyukur hujan sedikit membantu saya dalam trekking menuju Kumbolo. Bisa dibayangkan jika kondisi jalan untuk trekking berdebu, saya harus bekerja
ekstra untuk menutupi hidung dengan masker, dan mengatur ritme nafas
disela-sela langkah dan beban di bahu. Saya berjalan menaiki jalan yang sudah
berpaving, nampak butiran embun yang
berada di atas dedaunan jatuh tersenggol para pendaki. Terlihat tulisan “selamat
datang para pendaki gunung Semeru”, menyambut kami. Mari kita berjalan!.
Awal perjalanan menuju pos 1,
jalan sudah berpaving dan kami terbantu
dengan papan petunjuk jalan. Sebenarnya yang jadi persoalan adalah, bagaimana
bagi para pendaki pemula seperti saya mengatur ritme nafas dengan langkah,
sembari itu menyeimbangkan beban yang kita bawa. Maklum, saya tidak menggunakan
porter (tukang angkut barang), saya ingin bertanggung jawab dengan apa yang
saya bawa. Selain itu, saya masih anggap beban yang saya bawa dalam kondisi wajar.
Intinya, saya tak punya cukup uang untuk menyewa porter. Haha.
Sebelum tiba di Ranu Kumbolo,
kita harus melewati beberapa lokasi dan pos peristirahatan. Kita harus berjalan
dari Ranu Pani menuju Landengan Dowo sejauh 3 km, kemudian dari Landengan Dowo ke
Watu Rejeng sejauh 3 km. Baru dari Watu Rejeng menuju Ranu Kumbolo sejauh 4,5
km. Saya menghabiskan waktu cukup lama untuk trekking ini. Sekitar 1 jam lebih lama dari pendaki Profesional yang
hanya menghabiskan waktu sekitar 5 jam perjalanan. Bagi saya, tak selamanya
waktu itu penting, jauh lebih berharga kita tahu batas kemampuan kita dalam
bertahan, dan melanjutkan perjalanan. “kapan kita harus berhenti, dan tau kapan
kita harus berlari”.
“Saya berjalan setelah kamu”,
ucap saya kepada Izul, rekan yang saya temui di meja registrasi Ranu Pani. Saya
beristirahat, meneguk air yang sudah saya siapkan disisi kanan tas. Saya
beristirahat cukup lama, mengatur nafas yang menderu. Maklum budaya metropolis
akhir-akhir ini, membawa penderitaan yang menyusahkan di pendakian. Surat
dokter yang saya terima dari Surabaya sebelum berangkat ke Malang, tertulis
radang tenggorokan, flu dan kondisi saya yang kurang tidur. Haha, tapi apa
boleh buat niat seperti magnet yang membawa saya ke pendakian ini, bersama
ratusan pendaki dari seluruh Indonesia. Aku hanya bilang kepada kalian, “aku
berjalan setelah kamu, entah kamu menunggu, atau tetap melaju.”
Saya lupa tepatnya diantara pos
berapa saya berhenti, konsentrasi saya buyar saat saya mulai merasa otot paha
sedikit tertarik. Jika ada beberapa buku mengatakan teori-teori selama
pendakian. Menurut saya hasil serapannya hanya 25%, selebihnya kamu dan dan
Tuhan yang memutuskan. Pengalaman dan cerita kawan-kawan warung kopi yang bisa
saya andalkan dalam pendakian ini. Saya mencoba menurunkan tas 40 liter ke atas
tanah yang basah, melihat daerah sekitaran bahu mengeluarkan asap hangat, dari
panas tubuh bertemu dengan udara dingin di jalur pendakian. Fenomena yang
jarang saya jumpai di Surabaya.
Walking After You- saya masih tak paham. Siapakah yang akan
melewati saya dan menegur saat saya meluruskan kaki. Karena saya berapa kali
terlewati oleh para pendaki, begitupun saya bergantian mendahului mereka dan
menyapa saat mereka duduk beristirahat. Tapi kali ini berbeda, wanita dengan
jaket entah berbahan apa, yang saya ingat warna jaket tersebut merah. Wanita
ini memakai topi, dengan mengikat rambutnya dengan style ekor kuda. Menggendong one
day pack warna merah. Ia melewati saya sambil menyapa, “mari saya dulu”.
Sambil melengkungkan senyum kepada saya. Dengan wajah kehabisan nafas, saya
hanya menjawab: “mari”, dengan muka datar dan sambil mengatur nafas. Kemudian
disusul di belakang wanita itu para pendaki lainnya. Para pendaki itu bilang
kepada saya,”Lu hebat, disapa Medina Kamil bro!”. Gue nih maksa jalan biar
dapet foto bareng dia. Coookk! Tadi
itu Medina Kamil toh.
Bisa diibaratkan besok lu mau
sidang skripsi, dan lu terlambat bangun. Langsung melompat dan gendong tas.
Ngebut dijalanan. Lah ini kondisi saya saat ketemu Medina Kamil, bukan apa-apa.
Ibarat Lu punya sebuah hoby, pasti semua punya bintang. Dan saat itu bintang lu
ada dihadapan lu. Kemudian lu kacangin
gitu aja, Men! Aarghhh!!! (maaf Medina, saya khilaf waktu itu).
Saya tak menyerah, saya terus
berjalan di belakang Medina dan beberapa pendaki lainnya. Yang pasti para
pendaki lain punya niatan yang sama dengan saya. Selain foto bareng, lu bisa
bayangin saat lu jalan di belakang medina. Apa yang lu bayangin? Pengen
pura-pura jatuh, lalu Medina nolongin lu? Atau pura-pura pingsan? Dan Medina kasih
nafas bantuan buat lu. Oh Meeeen!! “Masyarakat pada bilang Waow”.
Saya bersyukur dikasih sama Tuhan
panca indra yang lengkap, untuk merekam bagaimana Medina Kamil. Waktu 30 menit saya
berjalan, dan menamati bagaimana sosok Medina yang cheersfull dilayar TV itu. Setelah itu saya roboh, dan melihat Medina
berjalan dengan para pendaki lainnya. Medina lebih cantik dari yang saya lihat di
televisi. Sialan, untung banget jadi kameramen acara jejak petualang, gak perlu
roboh-robohan macam awak gini.
Saya butuh coklat, untuk atasi
pahit yang berada disekitaran bibir dan mulut. Untung saya betemu “kluwing”, teman dari Surabaya yang saya
temui saat saya di tumpang, ia seperti tak punya saraf rasa lelah dan dingin.
Ia terus berjalan dan menyapa para pendaki lainnya. Dengan sedikit keriuhan
canda, mencairkan jalur pendakian yang beku oleh tiupan angin dan sapaan kabut
tipis yang mulai naik. Dia bonek sejati, terlihat dari baju dan perawakannya.
Dua kaos yang ia kenakan semuanya bertuliskan bonek. “satu nyali, salam wani”.
separuh perjalanan lagi, tapi
saya ingin melempar tas saya dan meninggalkannya. Kedua bahu sudah mulai nyut-nyutan.
Di belakang saya sepertinya rekan dari Gersik, memakai atribut semacam slayer
bertuliskan Ultras. “Mas monggo minum?”,
ia menyodorkan minuman warna oranye, sepertinya ini minuman jeruk. Lumayan
Tuhan, untuk mengalihkan rasa pahit di area mulut, “suwun mas”, ucapku berterima kasih. “Di depan sudah pos 3 mas, tapi
pelan-pelan saja, jalannya 45 derajat naik”. Si-Ultras menerangkan kepada saya,
sambil terlihat ia mengusap keringat. Bismillah!
Tiga jam kemudian, saya berhasil
melihat langit yang membiru cerah. Terlihat juga segerombolan pendaki berhenti
untuk berfoto. Beberapa orang mengucap syukur karena telah melihat Ranu Kumbolo
yang memantulkan warna langit. Saya menikmati panorama dari tebing yang
langsung menghadap ke arah Ranu Kumbolo. Danau yang mulanya biru, perlahan
menjadi hijau karena pantulan dari pohon cemara yang berada disisi kiri dan
kanannya. Setelah menikmati panorama selama 1 jam, saya melanjutkan perjalanan
untuk mencari lokasi camp. Saya
terpaksa mengitari danau menuju dua bangunan yang berdekatan dengan jalur
penanjakan cinta. Karena beberapa lokasi dipakai untuk peserta dari Jambore Avtech.
Saya tak sendiri di Kumbolo,
ternyata saya bertemu teman dari kampus. Zaki wakil PresBem Fakultas di jaman
saya. Dan dua adik angkatan Nizam dan Ari, yang bergabung setenda bersama saya.
Ranu kumbolo sudah mulai turun kabut. Kami yang baru tiba langsung mendirikan
tenda, sebelum hujan memandikan kami dengan butiran es. (Bersambung)
***
0 komentar:
Posting Komentar