7 min Reading
Add Comment
Setelah kedatangan mas Iwan Londo
dari Bali dalam rangka acara bird banding, beliau banyak bercerita tentang
antusiasme rekan-rekan birder dari Pulau
Dewata. “Terutama fotografer alam liarnya
man, eksis banget.” Birder Bali
memang tidak sebanyak dari Kota Jogja atau Jakarta, tetapi mereka mampu
menampilkan satu keteraturan dalam berkarya, menghasilkan beribu-ribu frame foto yang menarik untuk mereka
tampilkan melaui grub di media sosial, tulisan berkala, dan menjadikannya sebuah
pameran foto yang edukatif bagi masyarakat. Mereka mampu menyuarakan sesuatu
yang kecil, yang tanpa kita sadari mampu masuk ke ‘ruangan’ yang bernama “ADA”
dan “WAH.” Secara tidak langsung mereka telah menampilkan branding untuk identitas mereka kepada khalayak. Kita mengetahui bahwa
keberadaan mereka terpisahkan dengan bentang alam, letak geografis berkilo-kilo-mil jauhnya, namun cukup
dengan sekali klik ‘tuts enter’ kita
mampu mengenal mereka begitu dekat.
#30HariMenulis
artikel
bekal penting
buku harian ayah
opini
Tidak bisa dipungkiri bahwa
kegemaran dalam bidang fotografi alam liar atau sering kita dengar dengan “wildlife photographer” di Indonesia
sudah menjadi tempat tersendiri di hati penikmat foto dan pemerhati lingkungan.
Saya juga tidak mengerti apakah fenomena yang ada hanya sebatas hobi atau aktifitas
“anget-anget tai ayam” saja? Tapi
yang jelas beberapa forum dikusi tentang flora-fauna
seperti di grub facebook misalnya, dan
beberapa forum lain semakin sering di dengungkan. Salah satunya oleh para
fotografer alam liar yang saya sebutkan di atas untuk menyuarakan kelestarian
lingkungan beserta isinya.
Sedikit cerita, saya pernah
berkesempatan mengikuti pelatihan tentang kewirausahaan yang diselenggarakan di
Tanggerang tiga tahun lalu. Ciputra enterpreneur bekerjasama dengan Dikti,
mencoba menstimulus para wirausahawan muda untuk lebih meningkatkan kinerja
melalui beberapa pelatihan, ada yang menyebutnya dengan istilah “coaching center.” Saya tidak membahas istilah coaching center, saya
tertarik untuk membahas mengenai sisi branding
dalam dunia bisnis yang ada kaitan mengenai fenomena rekan-rekan birder di Bali, yang mampu menjadi trending topik di beberapa forum diskusi
online.
Ada beberapa hal yang harus kita pelajari
untuk membuat suatu branding untuk, katakanlah
‘bisnis’ yang akan kita lakukan. Saya tidak terlalu mengkultuskan makna bisnis
itu hanya melulu berbicara mengenai uang dan profit semata. Bisnis di sini yang
saya coba artikan dengan konteks yang lebih luas, seperti hobi dan kegemaran
yang kita lakukan sehari-hari. Entah, nantinya menjadi sebuah profit tersendiri,
itu terserah Anda. Seperti kegiatan memancing, fotografi, atau kegiatan lain
yang Anda gemari misalnya. Sebelum membahas branding,
mari kita berbicara sedikit mengenai fenomena inet di masyarakat.
Di era digital, semua jaringan inet tanpa kita sadari sudah menjalar bak kacang goreng. Kita temui dimana-mana
dan sangat laku. Sejurus dengan perkembangan itu dibarengi dengan keberadaan
kedai wifi, dan seluler pintar dengan
harga yang sangat miring. Praktis kedai/warung kopi yang dulunya sebagai tempat
beristirahat untuk para pekerja, sekarang menjadi tempat favorit untuk
masyarakat yang lebih kompleks. Bukan hanya sekedar menjadi tempat bagi kaum
pekerja melepas lelah, sekarang sedikit demi sedikit bergeser menjadi lokasi
paling dimintai bagi pelajar.
Fenomena yang saya amati, mereka duduk
dengan begitu khusuk dan sibuk menunduk mengakrabi smartphone-nya masing-masing. Saya ingat dengan apa yang dosen saya
katakan empat tahun lalu dalam satu matakuliah mengenai kewirausahaan, “Dengan adanya internet kita yang jauh
terasa dekat, dan yang dekat terasa jauh.” Fenomena yang terjadi di
masyarakat itu harus kita sikapi sebagai satu peluang positif untuk maju dan meningkatkan
kreatifitas kita dalam berkarya.
Branding diri yang kita kemas melalui sebuah tulisan maupun
tampilan yang menarik dapat membuat masyarakat tertarik ingin mengetahui secara
lebih dekat. Saat ini mungkin blogger
atau penulis media online menjadi
penting keberadaannya, meskipun dahulu juga memiliki peranan yang luar biasa
vital dalam perkembangan era portal web.
Pada dasarnya sebuah blog terbukti
dalam banyak kasus menjadi alat publikasi yang ampuh, baik itu untuk sebuah
perusahaan yang sedang kita dirikan atau untuk kepentingan profile branding yang akan
kita kenalkan kepada khalayak.
Namun, ada juga sebagian pemilik ‘bisnis’
yang masih merasa bingung saat harus menampilkan diri dalam blog. Mereka kurang percaya diri, tak
merasa begitu seksi di mata calon konsumen. Apakah Anda salah satu dari mereka?
Jika iya, ubahlah cara pandang Anda karena keuntungan blog lebih banyak dari yang Anda pikir. Dampak yang dapat diberikan
pada brand Anda oleh blog bisnis yang dikelola dengan tepat,
terutama untuk perusahaan-perusahaan yang sektor industrinya tak begitu menarik
perhatian dan mungkin bagi banyak orang sangat membosankan dan menawarkan
sedikit celah untuk berkreasi.
Oke, jangan menyerah dulu. Tak
peduli apapun yang Anda coba promosikan di blog Anda, berikut adalah 4 kiat
mudah untuk membuat blog untuk ‘bisnis’
Anda yang akan membuat pembacanya terkejut dan sekaligus puas.
Temukan suara brand Anda
Buatlah
menyenangkan untuk dibaca. Siapa yang pernah berpikir untuk
menggunakan suara (gaya menyampaikan pesan) yang lebih santai, jenaka malah
bisa mengangkat brand yang
biasa-biasa saja? Itulah yang dilakukan oleh Warby Parker melalui blognya.
Alih-alih menggunakan suara yang formal dan kaku, perusahaan itu memilih gaya
penyampaian yang kreatif, lebih membumi dengan pengalaman sehari-hari pembaca,
menghibur dan lucu. Melalui tagline blog
Musings, inspirations, and fun stuff from your friends at Warby Parker,
perusahaan seolah-olah menanggalkan kesan korporat yang serius dan lebih
memahami karakter konsumen masa kini. Jangan lupakan unsur kemanusiaan dan
humor. Hal ini juga diterapkan pada blog
traveler seperti yang dikelola oleh Adis dengan blognya yang bejudul “Whatever I’m Backpacker”.
Kemaslah konten dengan kreatif
Kita bisa belajar dari cara
penyajian konten blog milik General Electric (GE) yang menarik. Di sini, mereka
mengemas konten yang biasa dan tak begitu menarik tentang foto-foto lokomotif
KA dan pembangunan terowongan angin menjadi lebih menarik, informatif, dan
indah untuk dibaca dan dinikmati. Brand
Anda juga bisa melakukannya dengan mengetahui apa yang disukai oleh audiens dan
berkreasilah secara liar. Unggah foto-foto spontan yang informatif, artistik
yang masih relevan dengan bidang industri Anda. Jangan lupakan membuat
infografis yang berwarna-warni tetapi serasi dan mudah dimengerti mengenai
topik-topik industri yang lebih rumit. Pajang gambar GIF para karyawan yang
sedang sibuk bekerja. Atau minta komunitas Anda untuk memamerkan produk dan
jasa Anda dengan menyebarluaskan konten.
Edukasi
Bagaimanapun
jangan pernah meninggalkan sisi edukasi dari sebuah brand. Salah satu cara terbaik meningkatkan
interaksi dengan para anggota komunitas dan menarik anggota baru ialah
memberikan edukasi yang bermanfaat dalam format yang mudah dicerna, enak
dinikmati siapapun. Blog edukatif lebih dibutuhkan oleh perusahaan dan brand yang bidang industrinya cukup
sukar dipahami orang awam. Contoh yang bisa ditiru ialah blog milik Whole Foods Whole Story, yang di
dalamnya membahas resep dan makanan lezat nan sehat, dan blog milik AmEx Open Forum, yang dipenuhi tips
untuk UMKM.
Bersosialisasi
Ada banyak
cara untuk mengembangkannya, yaitu salah satunya dengan bersosialisasi. Daripada
menunggu orang datang, mengapa Anda tidak pro-aktif mendatangi mereka? Bertukar
pikiran, dan berdiskusi. Tentukan segmen konsumen yang Anda bidik, baru pilih
jenis platform jejaring sosial yang
sesuai dengan mayoritas kepribadian mereka. Anda bisa memilih untuk berjejaring
di Tumblr misalnya, tempat blogging
menjadi lebih praktis dan mendorong audiens berinteraksi melalui konten yang Anda
unggah di platform jejaring sosial.
Untuk melihat contoh ideal, Anda bisa mengunjungi akun Tumblr IBM:
ibmblr.tumblr.com, atau enroutemagazine.tumblr.com milik maskapai penerbangan
Air Canada. Saksikan dan pelajari bagaimana brand-brand
itu berinteraksi dengan konsumen di Tumblr.
Sebelum Anda membuat ‘blog
bisnis,’ amati terlebih dahulu blog-blog lain yang sudah dulu muncul dan mapan serta
sukses. Hal ini penting, untuk menjadikannya refrensi untuk belajar. Konten
yang menarik misalnya, yang mampu membuat sebuah interaksi yang baik terjalin
dari masa ke masa. Satu hal dalam kemunculan media untuk branding diri, adanya sebuah interaksi yang baik antara Anda dengan
audiences, pembaca, konsumen, dan komunitas
yang terlibat di dalamnya. Tapi yang lebih utama adalah jangan sampai melupakan
kelebihan dan daya tarik brand Anda
sendiri. Pikirkan cara yang lebih kreatif dari yang sudah ada dengan
menggunakan kelebihan dan daya tarik tersebut.
Lalu terbesit untuk bertanya
kepada diri sendiri,
“Lalu, blogmu, menariknya apa?”
“...embuh...”
“..Masih setengah jadi?..”
“Hmmm, Dipikir sambil minum kopi yuk!”
“Kami berdua tersenyum.”
“Selamat Mencoba!”
Post-scriptum: Tulisan di atas sebagai ucapan terima kasih saya untuk
mas Iwan Londo, yang berkenan untuk mengajak saya mengikuti pelatihan menulis
bersama kawan-kawan Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) pada tanggal 9 maret 2014
lalu. Saat M.R. Hartono (Mantan Ketum AJI) membahas “branding” dalam forum tersebut, saya teringat akan materi yang
disampaikan Ir. Ciputra tiga tahun lalu. “Bagaimana
kamu bisa didengar, jika kamu tidak bersuara! Era yang berubah, kini diam bukan
menjadi emas lagi.”
0 komentar:
Posting Komentar