4 min Reading
6
Comments
![]() |
Foto bersama dengan Charles Gozali sutradara film Finding Srimulat. |
Jika kita tahu darimana kita berasal, kita akan mengerti kemana kita akan pergi. –Charles Gozali
Ungkapan dari sutradara
film Finding Srimulat di atas telah menjawab bagaimana kemelut
tanya yang selama ini saya alami. Pemutaran film dan diskusi
interaktif dari pembuat film yang berlangsung di kampung ilmu
Surabaya serasa mengisi dahaga penikmat film dan pecinta budaya lawak
Indonesia. Film yang diputar ulang di Surabaya, berlangsung selama
kurang lebih satu setengah jam ini mendapat apresiasi yang cukup
meriah dari para penggemar Srimulat di Surabaya. Acara juga nampak
hidup di tambah keriuhan Akbar sang comic dan pelawak acara ‘becak’
di Jtv.
Film yang syarat makna
akan sebuah capaian mimpi dikemas apik dengan gaya dagelan
khas Srimulat. Film yang di bintangi oleh Reza Rahardian, Rianti, dan
tokoh utama dari Srimulat: Gogon, Mamik, Kadir, Tesi dan Djujuk
seolah membawa kita kembali ke beberapa tahun silam, saat Srimulat
tayang di TVRI dan Indosiar. Meskipun bukan pemutaran perdana bagi
saya, Film Finding Srimulat yang berlangsung di jalan Semarang nomer
55 ini, tetap tak bosan untuk disaksikan lagi terutama dari cara
dagelan dan lawakan khas Srimulat yang begitu kental
melekat bagi masyarakat Surabaya.
Mungkin sedikit flash
back ke beberapa tahun silam, Srimulat yang berawal dari kota
Solo masih sayup-sayup terdengar di telinga dan mendapatkan hati dari
sebagaian pecinta budaya lawak Indonesia. Baru pada tahun 1953,
Srimulat berada di Surabaya dapat mbeledos suaranya dan
menjadi trending topic Nusantara sampai saat ini.
Almarhum Bapak Teguh
Selamet Raharjo dan Almarhumah Ibu Raden Ayu Srimulat adalah sosok
penting yang menjadi pendiri grup lawak Srimulat, yang sekarang sudah
diteruskan oleh generasi ketiga dalam setiap pementasannya di
Nusantara. “Karena Uang bukanlah segalanya,” seperti penggalan
kalimat yang diucapkan Kabul atau yang sering kita ketahui dengan
nama Srimulat: ‘Tesi’, di film yang mengambil stasiun Balapan
Solo sebagai latar tempat pengambilan scene, menjadi sebuah
semangat untuk berkarya dan menghibur masyarakat.
Nama besar Srimulat bukan
serta merta ada tanpa sebuah proses keringat dan semangat dari tiap
anggota yang telah mendedikasikan karyanya untuk Nusantara. Hal ini
yang mendasari Charles Gozali untuk menyambungkannya kedalam sebuah
sajian yang menarik, supaya kita (masyarakat yang masih peduli akan
budaya Nusantara) semakin melek untuk melestarikannya. Bahwa kita
masih mempunyai sebuah karya yang membanggakan, dan sejarah tidak
akan pernah melupakan upaya dan jerih payah mereka.
Finding Srimulat pulang
ke kampung halaman juga tak luput dari tangan seorang Dhahana Adi
atau yang sering kita panggil mas Ipung. Ia adalah seseorang yang
saya kenal pertama kali di acara pemutaran film dokumenter The Tielman Brothers garapan Eky Imanjaya. Sang penggiat film dan pecinta
budaya ini, berusaha menjembatani Charles Gozali dengan para pecinta
Srimulat yang berada di Surabaya untuk secara langsung memutar ulang
film dan berdiskusi bagaimana sisi lain pembuatan film yang mengalami
proses panjang selama kurang lebih tiga tahun. Dhahana Adi juga tidak
sendiri untuk menjembatani proses kedatangan Finding Srimulat pulang
ke kampung halaman, tanpa campur tangan dari Himpunan Mahasiswa
Informasi dan Komunikasi Universitas Airlangga ‘acara obat rindu’
semacam ini nihil terwujud. Pulang kampung Srimulat juga menjadi kado
teristimewa bagi HM-Inkom UA yang merayakan hari jadinya ke 25 tahun.
![]() |
Foto oleh Septyo Gunarto. |
![]() |
Foto oleh Septyo Gunarto. |
Ada beberapa hal yang
menjadi sorotan saya saat menghadiri acara pemutaran ulang film
Finding Srimulat dan diskusi behind the scene dengan tema
pulang ke kampung halaman Surabaya. Charles Gozali banyak membagikan
pengalamannya kepada kami bagaimana ia berkarya dengan media film.
Usaha yang ia lakukan untuk berkarya, menjadi sorotan tersendiri bagi
saya. Terutama saat ia melawan semua keterbatasan yang ia hadapi,
mulai dari materi dan beberapa ‘tokoh’ yang diluar dugaan menjadi
guru dari sebuah pengalaman berharganya. Beberapa poin yang dapat
saya ambil, bahwa mimpi adalah realisasi dari upaya. Apresiasi saya
untuk Charles Gozali yang telah menginspirasi kami, bahwa “bukanlah
materi yang menjadi modal utama dari sebuah mimpi, melainkan karya
yang memiliki jati diri.” Dan ia merealisasikannya melalui ‘Film
Finding Srimulat’, seperti menemukan kemana kita harus melangkah
tanpa melupakan dimana kita berasal. Tabik.
6 komentar
Acaranya mantap bro
BalasHapussalut buat acaranya. salut jg buat bang charles gozali sbg inspirasi.
BalasHapussangar brow :D
BalasHapusIya mas septyo, reo, dan asad. salut buat Himakom, mas Ipung, dan Charles Gozali dan para crew.
BalasHapusAcara yang sangat menginspirasi sekali. Jangan lupa datang di acara Srimulat tanggal 23 di THR Surabaya.
Senang melihat para pemain Srimulat tampil lagi. Tapi di akhir film saya merasakan bahwa Srimulat memang harus beregenerasi jika memang ingin tetap eksis atau berakhir jadi kenangan.
BalasHapusBener mas Mawi, dagelan yang khas dan karakter dari setiap pemainnya dapet. Salam budaya Nusantara. :)
Hapus