4 min Reading
2
Comments
Birdwatching or birding is the observation of birds as a recreational
activity. It can be done with the naked eye, through a visual enhancement
device like binoculars and telescopes, or by listening for bird sounds.
Birding di daerah Ekowisata Mangrove Wonorejo yang saya awali pada
pertengahan tahun 2007 selain menambah wawasan tentang ilmu perburungan, ternyata
kegiatan ini juga dapat menyambung persaudaraan dan mengenal alam lebih dalam.
Bersama rekan-rekan pengamat burung (Peksia) Universitas Airlangga, pengamatan
rutin juga tidak selalu di area Mangrove Wonorejo Surabaya. Tapi juga kami melakukan
pengamatan di beberapa Taman Nasional Jawa Timur dan sesekali kami juga melakukannya
di Cagar Alam untuk menambah perbendaharaan list
burung.
event
Malaysia
pejalan
Peksia
Pengamatan bersama dengan rekan birder Selangor. |
Apakah kawan sekalian pernah menonton
film The Big Year? Film yang release
pada 14 Oktober 2011 dengan genre
film komedi ini dibintangi oleh Steve Martin, Jack Black, dan Owen Wilson yang bercerita
bagaimana salah satu fenomena tentang birding
di luar negeri khususnya di Amerika begitu digemari. Film tersebut
menceritakan aktifitas masyarakat dalam melakukan pengamatan burung (birding) yang bermula dari kegiatan
perlombaan menembak burung.
Birding bagi saya adalah upaya menjaga kelestarian burung (keilmuan)
dalam kemasan rekreasi yang menyenangkan. Namun disatu sisi, beberapa
masyarakat awam masih menganggap kegiatan pengamatan burung adalah kegiatan
sia-sia dan acara buang-buang waktu saja. Padahal lebih dari itu, burung
memiliki peranan pada lingkungan sebagai bio-indikator
lingkungan.
Kemarin (Rabu, 30 Oktober 2013)
kami kedatangan tamu dari MDHS (Majelis Daerah Hulu Selangor) Malaysia. Tamu
kami tersebut berjumlah tiga orang: Ibu Azlina, Ibu Nurul, dan Bang Hanis. Mereka
menyatakan kepada kami ingin melakukan pengamatan di Surabaya. Sebelumnya
obrolan ringan melalui chat Facebook untuk
acara pengamatan bersama yang diadakan di Ekowisaata Mangrove Wonorejo
Surabaya. Mereka menanyakan beberapa akses yang dapat didatangi untuk melakukan
pengamatan, serta menanyakan beberapa burung endemik yang berada di Surabaya.
Ibu Azlina, Ibu Nurul, dan Bang Hanis
setelah mendengar penjelasan dari kami semakin penasaran untuk segera
pengamatan bersama kami di Surabaya.
Tepat pukul 07.00 WIB, Ryan dan
Mas Lukman sudah berada di hotel Garden Palace untuk menjemput mereka. Sedangkan
saya, Adit, dan Anggara langsung menuju Ekowisata Mangrove dan melakukan
observasi lokasi terlebih dahulu.
Setelah menunggu selama satu
setengah jam, akhirnya mereka datang. Nasi pecel Rungkut membuka semangat untuk
mengawali acara pengamatan. Nasi pecel langganan Adit di daerah Rungkut
ternyata mendapat pujian ‘sedap’ dari Ibu Azlina, terutama peyek teri yang
renyah itu.
Pengamatan bersama birder dari Selangor di Wonorejo Surabaya. |
Kami berjalan dengan jalur
pengamatan yang biasa kami lakukan. Melewati jalan setapak ke arah timur yang
sisi kanan dan kiri terdapat kolam (tambak) bandeng. Ibu Azlina sudah
bersiap-siap dengan kamera 7D dan lensa 100-400mm miliknya untuk proses
pendokumentasian acara pengamatan. Kami berjalan dengan ritme santai. Sedangkan saya
yang belum terbiasa membawa teleskop pinjaman seharga 9 juta dengan pasangan
tripot yang lumayan berat, memilih berjalan paling belakang.
Beristirahat sejenak dan berdiskusi. |
Kami bertujuh sangat menikmati
pengamatan yang luar biasa terik hari itu. Matahari yang bersinar sempat membuat
kawatir kami, sebagai pemandu jalan. Kekawatiran kami bukan tidak beralasan, karena
tempat tinggal Ibu Azlina dan rekan-rekan di Selangor Malaysia termasuk
kawasan bukit yang berhawa sejuk.
Mas Lukman dan Ryan. |
Setelah berjalan selama kurang
lebih dua jam, kekawatiran kami keliru. Kawan-kawan birder dari Selangor ini, begitu antusias tanpa mempedulikan
bagaimana terik matahari Surabaya yang begitu menyengat. Mereka tidak
henti-hentinya berkata, “Wah cantiknyaaaaa.” Saat mengamati ratusan Little Egret terbang di hadapan kami. Belum lagi saat mereka mengamati shorebird yang sedang mencari makan.
***
Hari ini (Kamis, 31 Oktober 2013)
Ibu Azlina dan rekan-rekan birder akan melakukan perjalanan kembali ke
Malaysia. Mereka tak henti-hentinya mengajak kami bertandang ke Selangor pada
bulan April Tahun depan. Karena mereka adalah salah satu penggiat konservasi burung
yang berada di Malaysia. Tentunya kami akan pengamatan bersama lagi.
“Hanya butuh tiket saja untuk
pergi ke Malaysia, setelah sampai di sana kami tanggung,” begitu kata Ibu
Azlina kepada kami di teras depan rumah Adit.
“Ah Ibuuuu, setelah melihat video
pelancong hulu selangor yang anda perliahtkan kepada saya." Saya jadi 'teracuni' ingin pergi ke Selangor.
Insyaallah, semoga saya diberi rizki untuk mengunjungi Ibu dan rekan-rekan
birder di Selangor dan melakukan pengamatan bersama lagi. Tabik.
Saya, Bang Hanis, Ryan, dan Mas Lukman. |
2 komentar
Mantabs mas :)
BalasHapusApanya yang mantab ngga, sing gawe topi putih ta? hahaha..
Hapus