5 min Reading
Add Comment
Setelah memutuskan bermalam di
pos polisi Desa Tabog, kami bertiga melanjutkan perjalanan menuju Bedugul. Sebelum
itu kami sedikit membenarkan tatanan seprei kasur yang kami orak-arik
semalaman, kemudian kami berpamitan dengan Bli Agung sambil berpelukan. Lebay memang, namun kami sepakat dengan
berpelukan kita telah menjadi saudara secara batin.
Kami bersiap menunggu
transportasi publik yang melintas, kami menuggu di dekat pohon bambu di pinggir
jalan yang masih basah akibat uap air semalam yang naik. “Segar sekali udara pagi di sini”, kata Ryan sambil melipat
lengannya kearah dada sambil menghirup nafas panjang. Tak lama kami mengobrol,
angkutan colt L300 dari arah selatan melaju
ke arah kami. Sepertinya mobil pertama yang kami tunggu itu masih sedikit membawa
penumpang.
Bali
pejalan
![]() |
Danu Ulun Watu-Bedugul. |
Enam orang penumpang termasuk
kami. Saat kami masuk terlihat di sisi kiri pak supir ada satu orang wanita
berumur sekitar 50 tahun, dan dua orang lagi duduk di bangku belakang bersama
kami adalah bapak-bapak yang memakai udeng khas pulau Bali dengan setelan kemeja
hitam. Segera kami melontarkan senyum kearah mereka untuk mengawali perjalanan
kami menuju Bedugul.
Sebenarnya kami masih menyisakan
rasa kantuk yang belum tuntas, maklum kami hanya tidur satu jam setengah saja semalam.
Jika kami tak menolak ajakan Bli Made untuk minum arak Bali, bisa dipastikan
kami akan bangun kesiangan. Untung saja Bli Made cukup mengerti kondisi kami
malam itu, yang telah melakukan long-march
sejauh 7 kilometer dan hampir memutuskan bermalam di pos kamling Desa Tabog.
“Mereka semua orang baik, dan mereka tak akan memaksakan sesuatu hal
kepada kami jika kami tak ingin.”
Perjalanan yang menawarkan suasana
khas perkebunan cengkeh dan kopi, memaksa kami untuk diam dan membiarkan mata
terbuka lebih lebar. Sisi kanan-kiri jalan yang kami lewati, berdiri hutan
bambu dan beberapa tanaman perdu yang menghijau. Apalagi suara riuh
burung-burung hutan yang bersahutan menyapa mentari, membuat kami semakin
tertegun. Dalam batin berkata, “inilah
seharusnya Bali”. Mungkin pemandangan yang kami lewati juga diamini oleh Evan
yang sebelum naik angkutan publik sudah berujar kepada saya dan Ryan untuk
melanjutkan tidur, “eh rupanya niatnya itu
hanya di bibir saja”. Pupil matanya seakan melebar setelah melihat formasi
sengkedan persawahan dan beberapa pura kecil yang tertutupi oleh sarung.
Saya sedikit terusik dengan
terpaan angin yang masuk dari celah jendela yang susah ditutup, praktis membuat
saya sering mengatupkan gigi geraham dengan nada-nada yang fals. Eeeerr. Dasar kecéng!
Empat puluh lima menit perjalanan
yang kami lewati, dibantu dengan saran dari seorang bapak yang berada di
sebelah saya, untuk berhenti tepat di pintu masuk Bedugul. Sedikit memastikan saja,
lokasi yang sempat saya dan Ryan cari di peta, kami padukan dengan bertanya
kepada bapak tersebut. Akhirnya kami memutuskan untuk turun tepat di depan
gapura Bedugul. Kemudian, kami membayar lima belas ribu rupiah untuk satu orang
dari Desa Tabog. Lumayanlah, dari pada kami memutuskan long-march lagi.
Setelah menurunkan tas kariel
dari mobil, kami memutuskan untuk berjalan ke arah utara sembari mencari lokasi
sarapan. Kami sengaja untuk tidak masuk ke dalam area danau dan Pura Ulun Danu
Bratan. Karena kami berpendapat, pemandangan Bedugul sejatinya bukan dinikmati
secara langsung dari dekat Danau Bratan, melainkan dari kejauhan sambil
menyeduh kopi dan menikmati hisapan tembakau.
Kami memutuskan berjalan
mendekati area perkampungan yang berada di sekitaran Danau Beratan, terdapat
beberapa homestay dan pondokan untuk
disewakan. Kami sudah tak bernafsu lagi dengan penginapan. Kami lebih memilih
mencari warung kecil untuk mengganjal isi perut sembari mengobrol dengan
beberapa masyarakat yang terlihat sedang asyik mengemasi olahan buah strowberi.
Sepertinya buah yang kaya air itu baru datang dari kebun, dan segera dikemas
oleh beberapa ibu-ibu yang memakai penutup kepala.
Ada yang menarik perhatian kami
saat kami berada di Bedugul, di sini terdapat masjid besar dan beberapa
masyarakatnya muslim--terlihat beberapa wanita yang kami temui menggunakan
kerudung/penutup kepala seperti masyarakat di Jawa. Setelah menghabiskan
beberapa pisang dan menuntaskan seduhan kopi. Kami melanjutkan perjalanan menuju
ke arah Masjid Al-Irsyad Candi Kuning yang sedari tadi menarik perhatian kami.
Bedugul terletak di Kecamatan
Baturiti, Kabupaten Tabanan Bali. Saat itu kami menghadap Danau Beratan yang
tenang sembari berbincang dengan beberapa penjual asongan yang berada tak jauh
dari kami. Memang kami tak memutuskan untuk masuk ke dalam Pura Ulun Danu
Beratan, namun dari tempat kami duduk terlihat jelas pura dengan formasi bagian
atap yang melancip kearah atas.
![]() |
Danau Beratan, Bedugul Bali. |
Bedugul memang daerah daratan
tinggi yang unik, dengan hegemoni masyarakat dan tatanan geografis yang membuat
saya ingin berlama-lama duduk sambil merenung. Namun, keinginan tersebut
cepat-cepat saya urungkan, karena perjalanan ke beberapa lokasi lain harus kami
lanjutkan.
Mendung dari arah barat sudah
mulai nampak, dan sepertinya hujan akan turun. Kami segera merampungkan beberapa
sesi dokumentasi untuk pembuatan buku. Saya berjalan menuju jalan utama sambil
menenteng keriel di pundak, tiupan angin dari arah belakang begitu sejuk
seolah-olah menghantarkan kami keluar dari tepian Danau Beratan. Saya berjalan
sambil terus melihat kearah bawah, mengantisipasi jika harus mengenai beberapa
sesaji yang biasanya ditempatkan di beberapa jalan.
![]() |
Sesaji di pinggir jembatan Danau Beraran. |
Persinggahan yang singkat ke Danau
Bratan dan mengintip indahnya Pura Ulun Danu Beratan. Membuat saya
bertanya-tanya, “Apakah manusia harus
tenang untuk lebih menghargai kata syukur?” (Bersambung)
0 komentar:
Posting Komentar