Mungkin diantara kita sudah mulai
teracuni bagaimana foto-foto, video, dan catatan perjalanan dari seorang kawan
yang berhasil mendokumentasikannya secara apik, tak jarang membuat kita
tertarik ingin mencobanya. Berbekal kamera saku sampai camrecorder sebagai media pendokumentasian. Pada kesempatan kali
ini saya ingin membagikan beberapa video tentang perjalanan. Yang secara tak
langsung menginspirasi saya untuk melakukan perjalanan. Dengan video atau film
pendek, kita dapat mendapat gambaran secara langsung bagaimana perjalanan
tersebut dilakukan. Tidak jarang, dari kita semakin mengerti dan terbelajar
bagaimana pejalan memberikan pesan yang berguna untuk pejalan lainnya. Berikut
tiga video atau film pendek tentang perjalanan yang menginspirasi menurut saya:
“Sebuah
pohon sebesar Anda bermula dari sebuah biji yang kecil; perjalanan
sejauh seribu mil berawal dari sebuah langkah kecil”. (Lao Tse)
Saat matahari sedang
malu-malu di pertengahan Oktober, kesempatan yang baik untuk kami
pergi keluyuran. Saya dan kakak sepupu saya. “Namanya Rosy,
Pria berperawakan sedang, dengan brewok dan kumis yang
menghiasi wajahnya”, begitu saya mendiskripsikannya. Saat itu hari
minggu di pertengahan bulan Oktober, saya pergi ke Pare untuk
meninjau beberapa kolam lele dan dan sawah yang akan saya jadikan
lahan percontohan usaha pemakaian pupuk organik dari cv. Bioasa. Tak
lama kami di Pare, hanya beberapa jam sebelum adzan dhuhur
berkumandang, tinjauan kami ke kolam lele dan sawah kelar
juga.
Jika saat itu kami
memutuskan untuk langsung pulang menuju Mojokerto dan mengakhiri
minggu sore hanya di rumah, kok cek emane uripku. Apalagi saya
dan kakak sepupu saya, jarang sekali liburan akhir pekan bersama.
Mengingat dia sudah tidak bujang lagi, dua wanita cantik selalu
menunggunya di rumah. Meski ini bukan liburan akhir pekan, tapi
itung-itung keluyuran colongan lah. Tapi mau kemanakah kami
setelah ini?
Kami memutuskan untuk
bermotor-ria dari arah Pare menuju ke arah timur Jombang,
random mengikuti arah angin. “Dari sebuah ketersesatan,
ada perjalanan yang tak kita duga serunya”. Kami sepakat siang
itu, tak masalah. Sepertinya si-Matahari juga sedang malu-malu. “heh,
dek kopi daerah endi sing jaremu manteb?” (heh, dik Kopi daerah
mana yang katamu enak?), tanya masku. “nek cidak kene yo
Wonosalam, mas” (kalau yang dekat sini ya Wonosalam, mas),
jawabku setengah yakin. “yowes nek kunu ae” (yasudah di situ
saja), timpal masku meyakinkan tujuan kami.
Kami mengendarai Kawasaki
Edge. Sebenarnya di perjalanan ini, kami menunggangi Honda CB
seri 100n, tapi si doi lagi bongkar mesin di Surabaya.
Perjalanan ngeluyur kami masih random, tidak ada peta
dan tidak ada alat bantu navigasi. Hanya berbekal nekat. Sudah lebih
dari 45 menit kami mengendarai si-Ed, dan akhirnya kami
menemukan papan penunjuk yang mengarahkan kami ke Wonosalam. Terlihat
bukit dan beberapa pegunungan menyambut kami, sepertinya itu
pegunungan yang masih masuk kompleks Gunung Watujuwadah, Gunung
Argowayang, dan Gunung Kojor. Mungkin yang lebih sering terdengar
adalah Gunung Welirang, Gunung Anjasmoro, dan Gunung Arjuno yang
merupakan barisan pegunungan Api di daerah Jombang, Kota batu, dan
Pacet Mojokerto.
Sepertinya mendung sudah
mulai merapatkan barisan, seolah-olah menyambut kami datang. Terlihat
beberapa tumpukan kayu saat kami melewati permukiman penduduk,
mungkin untuk kayu bakar masyarakat sini. Mulai mereka kemasi, tak
mau sia-sia seharian mereka jemur, hanya karena terlambat berkemas
saat langit sudah mengirim signal hujan dengan mendungnya
terlebih dulu. Memang berbeda saat di Surabaya matahari sangat
terik-teriknya, berbeda dengan daerah lainnya di Jawa Timur. Seperti
di Wonosalam sekarang, sudah gerimis. “Mas, mandek sek ta? Gawe
jas udan.” (Mas, berhenti dulu? Pakai mantel), tanyaku.
“sek-sek durung teles!Dek”, (nanti dulu dik, belum
deras), jawab masku. Memang hujan sudah mulai menyambut kami, tapi
hanya sebagian perjalanan. Tiba-tiba sudah berhenti, turunnya hujan
memang tak merata, terlihat tutupan awan hitam hanya di sebagian
tempat.
Terlihat muda-mudi dari
arah berlawanan, tak sedikit beberapa mobil keluarga juga sering
mengagetkan laju perjalanan kami saat mulai belokan yang menanjak.
Sepertinya dekat dengan lokasi wisata. Tapi bukan itu tujuan kami
dari awal, kami penasaran bagaimana kopi Wonosalam yang santer
di masyarakat bisa membuat barista ternama gulung tikar karena
mencicipi kopi yang hanya di tukar dengan uang receh 500
perak. Kami masih setia meliuk-liukkan si-Edge di jalanan menanjak
dan sembari menikmati aroma pedesaan dengan bau tanah yang tersiram
air hujan barusan. Seger!
papan peringatan - koservasi
Jalanan di desa ini sudah
beraspal, jika saya tak salah menyebutkan. Hampir 99 persen jalanan
yang kami tempuh sudah beraspal dan sangat sedikit sekali jalanan
yang berlubang. Kiri-kanan jalan terlihat beberapa papan iklan
seperti pijat, foto manten, sampai papan konservasi dari
BKSDA. Jalanan yang kami lalui cenderung menampilkan hutan musim,
yang bercampur dengan tanaman kebun dari masyarakat seperti kakau,
kopi, jagung, dan pohon jati. Beberapa bangunan rumah juga sudah
menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat sudah berbenah dan modern.
“Dek, mandek sek
gegerku kesel” (dik, berhenti dulu punggungku capek), kata masku
sambil mengurangi tekanan gas motornya. Kami berhenti di toko, jika
kami mendiskripsikannya seperti pada toko-toko di pedesaan pada
umumnya. Tapi disini terlihat beberapa kebutuhan tersedia, seperti
paku dan beberapa kawat besi juga terlihat disamping kotakan beras
dan bawang. Terlihat juga ada menyan yang tersampul dengan
plastik dengan merek 55. Tapi mata kami tertuju pada lemari pendingin
yang terletak di sudut kiri toko. Letaknya yang mudah dilihat, berada
di jalan masuk pembeli dan diantara etalase kebutuhan pokok. Kami
mencari kopi, otak kami sependapat akan itu. Tapi kerongkongan kami
mengatakan minuman dingin dulu lah.
Saya langsung menghampiri
lemari pendingin itu, mengambil pocary dan mizone. saya
langsung duduk di bangku kayu, yang berada di pinggiran teras toko
tersebut. Tanpa pikir panjang, saya langsung membuka segelan plastik
minuman dingin tersebut. Setelah dua tegukan panjang, saya
mengeluarkan lipatan uang dari saku kemeja untuk membayar. “saking
pundi mas?” (darimana mas?), tanya penjual kepada saya. “saking
Suroboyo Pak, mlampah-mlampah” (dari Surabaya, jalan-jalan
pak), jawabku dengan wajah kucel karena haus. Dari sapaan bapak
penjual di toko tersebut kami mengobrol panjang lebar, dan kami
mengerti bagaimana kehidupan masyarakat Wonosalam dan bagaimana
Wonosalam dengan kopi, dan hasil pertaniannya.
***
Pak Hary
Adalah Pak Hary, pria
ramah berusia sekitar 50 tahun yang senang ngobrol ini, yang banyak
bercerita tentang lingkungan Wonosalam dan sesekali menyisipkan
cerita bagaimana beliau membesarkan anak-anaknya sampai menjadi
Profesor pertanian. Beliau adalah pemilik warung atau toko serba-ada
yang menjadi tempat saya dan kakak saya Rosy beristirahat di
Wonosalam sore itu. Deretan jajanan dan beberapa bilik-bilik kayu
penyekat untuk tempat beras, kopi, dan jagung di bagian depan
mempertegas bahwa toko ini menjadi salah satu mata pencahariannya di
Wonosalam. Tempatnya memang sederhana, tetapi jika kita mencoba
berjalan di sekitaran samping rumahnya, kita akan tahu bagaimana pria
dengan tiga orang anak yang sudah berkeluarga dan mapan ini, mengisi
hari-harinya dengan bercocok tanam. Terlihat pohon kakau, dan pinus
sebagai sumber industri karet, terlihat di perkebunan Pak Hary.
“Panggil saya Pak Hary
saja mas, orang-orang sini akrabnya sama nama itu”, jelas Pak Hary.
Sebetulnya ada 2 rumah yang Pak Hary punya, tapi untuk kebutuhan
petani, praktis rumah yang satu beliau hibahkan untuk koperasi dan
kebutuhan petani disini. Berdasarkan keterangan Pak Hary,
permasalahan petani yang masih belum terpecahkan di Wonosalam adalah
tentang cengkeh. Hal itu karena cengkeh terserang virus, dan petani
sepertinya sudah putus asa, ditambah lagi petani terselimurkan
dengan adanya WTC (Wonosalam TrainingCenter) yang
semakin ramai. Hal itu karena WTC sengaja dijadikan kawasan wisata
oleh pemerintah setempat. Bertambahnya area wisata membuat kegiatan
pertanian mulai terancam kefokusannya. “di sini tanah sudah
semakin mahal mas, untuk tani sekarang sudah mulai menyempit,”
keluh Pak Hary.
Saya lihat jam tangan
sudah pukul 15.00, tetapi di luar hujan semakin deras. Pak Hary
mengajak kami masuk ke dalam tokonya, menunjukkan hasil pertanian
seperti kopi, dan kakau. “saya kalau sehari gak kena ini mas,
badan bisa pegal-pegal.” Sambil menunjukkan kopi yang beliau
ambil dari karung goni. “saya minta ijin foto ya Pak?, ucap
saya meminta. “Monggo-monggo mas”, saut beliau mengiyakan.
“saya bikin kan kopi ya mas?” tawar Pak Hary. “hmm”,
kami senyum-senyum sungkan.
Saya duduk berseberangan
dengan bangku kayu yang diduduki Rosy dan Pak Hary, mendengarkan dan
mencermati obrolan mereka berdua membahas bagaimana permasalahan
petani yang semakin hari semakin tak terjawab. “padahal kalau
dulu saya nyangkul, lalu cuma nancepin ubi-ubian itu mas. Sekarang
gak bisa disamain dengan dulu”, keluh Pak Hary. “Anak-anak
sekarang pada pengen jadi Dokter, gak ada yang mau urusi ladang”.
Kalau saya tanya, “mau gak jadi Insinyur pertanian? Malah
diplengosi sama anak-anak sekarang,” terang Pak Hary sambil
tertawa kepada kami.
kakau
News
and Fact!
Dengan
luasan 40.000 kilometer area keliling khatulistiwa berada di
Indonesia, negeri ini mempunyai lahanpertaniantropisterluas di dunia. Indonesia juga menjadi negarakepulauanterluasdi dunia dengan 5,8 juta
kilometer persegi atau 75 persen wilayahnya merupakan perairan
laut.
Sampai
saat ini sekitar 49 persen dari angkatan kerja Indonesia bekerja
di sektor pertanian. Ironisnya, sekitar 60 persen dari
masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan adalah petani.
Selain
potensi produksi dengan luasnya kawasan produktif, Indonesia
sekaligus merupakan pasar amat besar bagi produk pangan.
Populasi penduduk saat ini mencapai 220 juta jiwa dan diperkirakan
dapat berlipat hingga 400 juta jiwa pada tahun 2035.
Untuk
memenuhi kebutuhan pangan, Indonesia saat ini menjadi importir
beras, kedelai, susu, garam, buah-buahan, dan beragam produk
pertanian lainnya.
Kami meminum kopi bikinan
Pak Hary, dari hasil bumi Wonosalam. Sore dan guyuran hujan di
pertengahan Oktober. Rasanya tak ingin kembali ke Surabaya. Saya
mengerti ternyata tersesat itu tak selamanya meyeramkan, dan kami
sependapat bahwa tak selamanya kopi premium di kedai mahal itu enak.
“Mulailah melihat dari yang kecil”. Memang benar rupanya,
“ibarat sponge yang kering yang menyerap sari pati sekitar”,
kata Ayos di setiap petualangannya.
Mungkin namanya kalah populer dibandingkan The Beatles dan The
Rolling Stones. Tapi jauh sebelum mereka, muda-mudi tahun 50-an masih mengingatnya.
Mereka adalah salah satu perintis rock and roll di Belanda dan masih punya
tempat tersendiri di hati penggemar lagu “Shake Baby Shake” ini. Band yag
berasal dari Indonesia yang berhasil masuk internasional pada tahun 50-an. Siapa
sangka dari gaya mereka bermain musik, menjadi inspirasi banyak Band muda
setelahnya. Inilah “The Tielman Brother’s”. Mengingatnya hanya dengan tiga jam
saja. –Abdurrahman Azhim Ali.
Andaikan Agung Martani pecinta Mods Jumat malam tidak
nge-tweet acara jalan-jalan sama “franklin the vespa”, saya masih dikamar dengan
kopi dan beberapa majalah dari kampung ilmu tadi sore. Apalagi ‘orang tua gaul’
satu ini ngompor-ngomporin bakal datang
ke acara memorabilia The Tielman Brother’s di resto Heerlijk Darmo Surabaya,
dari beberapa sms setelah dia bikin info ini:
Resto Heerlijk Darmo
Setelah penasaran dengan gaya evolusi si ‘Franklin the Vespa’
si Agung martani. Kami putuskan untuk meluncur dan menyelinap ditengah kemacetan jalan protokol Surabaya. Kira-kira dua puluh
menit dari rumah Agung dan akhirnya kami tiba di resto Heerlijk Darmo. Suasana saat
itu seperti pada umumnya resto-resto kota metropolitan. Pengunjung yang
mayoritas Muda-mudi. Beberapa pramusaji terlihat sibuk melayani dan tersenyum
saat ada pengunjung yang datang. Resto ini memang menarik perhatian saya,
selain lokasinya yang masih jadi satu dengan Rumah Sakit Darmo (bersebelahan
dengan IGD), resto ini memberikan kesan tenang di pinggiran jalan protokol di
malam weekend.
Kami sengaja tidak memesan minum dan makanan. Kami masih
mengatur nafas seperti Vespa keluaran tahun 1981 milik agung, yang dipaksa
ngebut malam ini. Selain itu kami menunggu kedua teman kami yang belum datang,
Ryan dan pak Gerson. Beberapa menit setelah teraturnya irama jantung kami ‘Ipung’
yang menjadi promotor acara ini menghampiri kami. Pria yang memiliki postur
yang cukup subur ini, menyambut kami seolah-olah kami adalah teman lama. Menyenangkan,
kami juga diperkenalkan dengan pembuat film dokumenter ‘The Tielman Brother’,
yaitu mas Ekky Imanjaya yang juga penulis buku ‘Menjegal Film Indonesia’
bersama Eric Sasono.
Pemutaran Film dokumenter ‘The Tielman Brother’ dan cerita
singkat dari Ekky
Beberapa ulasan singkat dari dari Ekky tentang pembuatan
film yang digarap sebelum Andy Tielman meninggal, dan tak sempat berkunjung ke
Surabaya lagi. The
Tielman Brothers adalah band Belanda-Indonesia pertama yang berhasil masuk
internasional pada tahun 1950-an. Mereka adalah salah satu perintis rock and
roll di Belanda. Band ini cukup terkenal di Eropa, jauh sebelum The Beatles dan
The Rolling Stones. Mereka adalah kakak beradik dari pasangan Herman Tielman
dan Flora Lorine Hess.
The
Tielman Brothers dipercaya lebih dulu memperkenalkan musik beraliran rock
sebelum The Beatles. Aksi panggung mereka dikenal selalu atraktif dan
menghibur. Mereka tampil sambil melompat-lompat, berguling-guling, serta
menampilkan permainan gitar, bass, dan drum yang menawan. Andy Tielman, sang frontman, bahkan dipercaya telah
mempopulerkan atraksi bermain gitar dengan gigi, di belakang kepala atau di
belakang badan jauh sebelum Jimi Hendrix, Jimmy Page atau Ritchie Blackmore.
Saat
The Beatles manggung di Jerman, grup band asal Inggris ini sempat melihat
penampilan The Tielman Brothers yang manggung menggunakan Hofner Violin Bass.
Dan saat itulah pertama kalinya Paul McCartney melihat Hofner Violin Bass. Dan
Andy Tielman sang gitaris memakai Fender Jazz Master khusus 10 strings. Alhasil
Fender sengaja mengirim representativenya ke Jerman saat itu untuk merancang
gitar buat Andy Tielman.
Pada
awal tahun 1960-an, mereka menciptakan 4 lagu ciptaan mereka sendiri, yaitu My
Maria, You’re Still The One, Black Eyes, dan Rock Little Baby. Lagu-lagu mereka
ini ternyata disukai oleh orang-orang Belanda. Bahkan mereka menyebut musik
“The Tielman Brothers” sebagai musik beraliran Indorock.
Dedikasi dan
Inovasi Andy, sang gitaris, ternyata sangat berpengaruh bagi perkembangan
budaya pop Belanda. Sampai-sampai mendapatkan gelar The Godfather of Dutch Rock
n Roll, The Uncrowned King of Indorock, dan penghargaan Order of the
Orange-Nassau ke pangkuanya.
Beberapa scenes
yanng buat saya takjub adalah saat Andy Tielman fasih berbicara bahasa
Indonesia dan Jawa (ngoko) kepada
Ekky. Selain itu, Andy Tielman juga sangat syahdu melantunkan lagu ‘Bengawan
Solo’. Terlihat juga tiga wanita Belanda yang menjadi backing vocal Andy Tielman, juga sangat menghayati lagu tersebut. Kemudian
bisa dibayangkan ditengah-tengah konser musik rock and roll internasional, tiba-tiba Andy Tielman mempersilahkan
penari untuk menari tarian jawa, dan sontak musik berubah menjadi keroncong. Ini
memang tidak umum untuk dilakukan!
Andy Tielman mungkin tak sempat datang lagi ke Surabaya.
Horor gaya dia bermain musik yang diusungnya bersama Tielman Brother melalui
dokumenter dari Ekky Imanjaya menghantui malam saya sesaat sebelum saya merapat
ke peraduan pulau kapuk. Tapi, alangkah terkejutnya saya bagaimana nasionalisme
Andy terhadap Indonesia sangat dalam. Apa yang buat Andy Tielman begitu
termotivasi untuk jadi besar?, dan sangat mencintai Negeri ini?. Jika dia tahu
bagaimana Surabaya dan Indonesia Sekarang. Seperti “Shake baby Shake!” yang ia
nyanyikan sambil berguling ria.